BAB I
PENDAHULUAN
Analisa kuantitatif adalah cara yang
bertujuan untuk menentukan jumlah suatu zat atau komponen zat. Analisa
kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang
terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut, yang sering
dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau
sebagian besar sampel yang dianalisis. Suatu
pratikum digunakan untuk menemukan atau membuktikan sesuatu hal.
Tujuan dari praktikum kimia dengan materi
Pengenalan Analisa Kuantitatif adalah untuk mengenal metode analisa kuantitatif
dan dapat menetapkan kadar asam cuka yang diperoleh dari metode analisa
kuantitatif. Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah agar mahasiswa
mampu mengukur standarisasi NaOH dengan larutan Asam Oksalat dan mampu
menetapkan kadar Asam Cuka. Tujuan
dari praktikum materi Karbohidrat, Protein, dan Lemak adalah untuk mengetahui sifat
umum, sifat khusus, sifat kimia dan sifat fisik karbohidrat, protein, dan lemak
. Manfaat yang diperoleh dari praktikum adalah mengetahui sifat umum,sifat
khusus, sifat kimia dan sifat fisik dari
karbohidrat, protein, lemak.
![]() |
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Analisa Kuantitatif
Analisa kuantitatif berkaitan dengan
penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel.
Zat yang ditetapkan tersebut, yang sering dinyatakan sebagai konstituen atau
analit, menyusun entah sebagian kecil atau sebagian besar sampel yang
dianalisis (Underwood, 1991).
2.1.1.
Pengertian Analisa Kuantitatif
Analisa
dapat diartikan sebagai usaha pemisahan suatu kesatuan ilmiah (dalam ilmu
sosial) atau suatu kesatuan materi bahan menjadi komponen penyusunnya sehingga
dapat dikaji secara langsung (Sudarmadji et al, 1989). Zat yang
ditetapkan tersebut seringkali dinyatakan sebagai konstituen/analit yang
menyusun sebagian besar atau sebagian kecil dari sample yang dianalisis
(Underwood, 2002). Kata analisa (analisis) berasal dari bahasa Yunani kuno yang
masuk kedalam bahasa Latin modern yaitu kata analusis yang berarti melepaskan.
Kata analusis sendiri terdiri atas dua suku kata, yaitu ana yang berarti
kembali dan luein yang berarti melepas sehingga analuein berarti
melepas kembali atau mengurai (Sudarmadji et al,. 1989).
![]() |
2.1.2. Macam-macam Analisa Kuantitatif
2.1.2.1. Analisa Titrimetri, titrimetri dianggap lebih
baik dalam menunjukkan proses titrasi dibandingkan dengan analisis volumetri
(Pudjaatmaka dan Setiono, 1994). Analisa titrimetri adalah pemeriksaan
jumlah zat yang didasarkan pada pengukuran volume larutan pereaksi yang
dibutuhkan untuk bereaksi secara stoikiometri dengan zat yang ditentukan. Dalam titrasi terjadi perubahan warna yang menunjukkan
bahwa reaksi tersebut berjalan dengan sempurna Fressenden (1999). Tercapainya
titik akhir dari titrasi yaitu terjadinya endapan dan mencapai keseimbangan
pada penambahan tiap titrasi Underwood (1999). Martoharsono (2006) bahwa jika
NaOH dengan Fenolftalein (pp) direaksikn maka akan terjadi perubahan warna,
larutan yang semula berwarna merah muda karena larutan tersebut bersifat basa,
berubah putih yang menandakan sifat netral. Sampel pada titik akhir dari suatu
proses titrasi adalah tidak mengalami pengendapan, mungkin di karenakan adanya
adnya zat lain yang mengkontaminasinya Hawab (2003). Faktor yang menyebabkan
kenaikan volume pada proses penetapan kadar asam cuka yaitu melambatnya reaksi
titrasi yang terjadi Bintang (2010).
2.1.2.2.Analisa Gravimetri,
analisa
gravimetri merupakan cara pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan sederhana
dibandingkan dengan pemeriksaan zat lainnya. Analisa gravimetri adalah analisa
yang menyangkut pengukuran berat. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna
hingga kualitas analit yang tak terendapkan secara analitis tak dapat
terdeteksi (Day dan Underwood, 2002).
2.1.2.3.Analisa Instrumental, analisa kuantitatif instrumental didasarkan pada
interaksi energy dengan materi (matter- energy interaction). Juga
didasarkan pada pengukuran besaran fisik untuk menetukan jumlah zat atau
komponen yang dicari atau non-stoikhiometri. Diatas disebutkan interaksi materi
energy. Energy ada bermacam-macam antara lain cahaya, listrik, panas, maka
instrumental ini juga bermacam-macam menurut macam energy yang digunakan dan
dalam penggunaan energy tertentu. Istilah instrumental merujuk pada suatu instrumen
yang khusus dalam tahap-tahap pengukuran suatu sampel (Day dan Underwood,
2002).
2.2. Karbohidrat
2.2.1. Pengertian
Karbohidrat
Sejumlah senyawa organik
yang terdapat dalam sel menunjukkan sifat fisika dan kimia kehidupan.
Senyawa-senyawa ini disintesis oleh sel melalui jalan yang unik,
senyawa-senyawa tersebut antara lain karbohidrat, lemak dan protein. Karbohidrat
adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai rumus umum (CH2O). Karbohidrat yang lazimnya dikenal
sebagai gula. Gula adalah senyawa tanpa warna dan bila terdapa dalam jumlah
mikro, harus dideteksi dengan cara reaksi dengan menggunakan pereaksi kromogen
yang cocok.
Larutan yang digunakan untuk
menguji daya mereduksi suatu sakarida ialah Benedict dan Fehling. Unsur atau
ion yang terdapat pada larutan tersebut ialah Cu++ yang berwarna biru. Gula
pereduksi akan mengubah atau mereduksi ion tertentu suatu sakarida menjadi Cu+
yang mengendap sebagai Cu2O yang berwarna merah bata. Zat
pereduksinya sendiri berubah menjadi asam (Martoharsono dan Mulyono, 1976).
Gula pereduksi secara klasik dideteksi berdasarkan pembentukan endapan merah
bata dengan larutan Fehling. Gula non-pereduksi dideteksi berdasarkan
oksidasinya yang cepat dengan periodat atau timbal asetat. Pereaksi umum untuk
semua ialah larutan AgNO3 basa, tetapi pereaksi ini tidak sepenuhnya
khas untuk gula karena larutan ini bereaksi dengan senyawa tumbuhan tertentu, seperti
fenol
Berdasarkan ukurannya,
karbohidrat dibagi menjadi empat kelas yaitu monosakarida, disakarida,
oligosakarida dan polisakarida. Selain berfungsi sebagai sumber bahan bakar
bagi tubuh, karbohidrat juga berfungsi sebagai prekursor pada proses sintesis
lemak, asam amino, glikolipid, glikoprotein dan proteoglikan. Karbohidrat
apabila ditambah dengan asam pikrat akan berubah warna merah (Harold, 2003).
2.2.2. Macam-macam Karbohidrat
Berdasarkan
ukurannya, karbohidrat terdiri dari empat kelas yaitu monosakarida, disakarida,
oligosakarida dan polisakarida (Marks et al., 2000). Monosakarida adalah
gula-gula sederhana yang mengandung 3-10 atom karbon (C) dan mempunyai gugus
aldehid atau keton bebas dan gugus hidroksil. Monosakarida misalnya glukosa,
fruktosa, galaktosa dan gula-gula yang paling kecil. Bila dilarutkan dengan air monosakarida dapat
larut dalam air. Hard (2003) yang mengatakan bahwa monosakarida larut
dalam air. Hawab (2003) yang
menyatakan bahwa sampel apabila di tambahkan aquades, maka akan membentuk suatu
larutan yang mengakibatkan warnanya menjadi keruh atau jernih.
Bila monosakarida seperti
glukosa dan fruktosa diberi pereaksi Fehling maka warna larutan akan berubah
menjadi merah bata dan terdapat endapan (Martoharsono dan Mulyono, 1976).
Umumnya, monosakarida memiliki rumus molekul yang merupakan kelipatan CH2O.
Glukosa adalah monosakarida berkarbon enam (heksosa) yang digunakan sebagai
sumber dasar energy oleh kebanyakan sel heterotrofik. Suatu disakarida mengandung dua
monosakarida yang disatukan oleh sebuah ikatan O-glikosidat, disakarida yang
paling sering dijumpai adalah sukrosa, maltosa dan laktosa. Maltosa terdiri
dari dua unit glukosa yang disatukan, sukrosa adalah penyatuan glukosa dan
galaktosa. Ikatan O-glikosidat adalah ikatan kovalen yang terbentuk antara dua
moekul monosakarida melalui reaksi dehidrasi. Sukrosa merupakan suatu
disakarida yang terdiri dari dua monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa.
Laktosa merupakan gula uama yang terdapat dalam susu, adalah disakarida yang
terdiri dari glukosa dan galaktosa.
Berbeda dengan glukosa dan fruktosa, sukrosa
tidak menunjukkan perubahan warna menjadi endapan merah bata apabila diberi
pereaksi Fehling. Perbedaan itu disebabkan karena monosakarida mengandung gugus
karbonil yang reduktif, sedangkan sukrosa tidak (Martoharsono dan Mulyono,
1976). Hal yang sama juga dinyatakan
oleh Hawab (2003) yang menyatakan bahwa semua monosakrida dan disakarida
merupakan gula pereduksi terhadap fehling. Martoharsono (2006) yang
menyatakan bahwa, golongan karbohidrat monosakarida dan diskarida bereaksi
positif terhadap larutan fehling, di mana terdapat kegiatan mereduksi larutan
fehling di dalam larutan tersebut.
Oligosakarida merupakan susunan suatu rantai
monosakarida yang terdiri dari 3-10 unit. Oligosakarida hanya mempunyai sedikit
fungsi biologis dan biasanya hanya merupakan hasil hidrolisis polisakarida.
Oligosakarida dijumpai pada komponen karbohidrat glikoprotein dan glikolipid,
dan diantara produk pencernaan kanji.
Polisakarida adalah
makromolekul, polimer dengan beberapa ratus sampai beberapa ribu monosakarida
yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Polisakarida berfungsi sebagai
materi simpanan atau cadangan yang suatu ketika apabila diperlukan akan
dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel-sel tubuh. Rasa polisakarida tidak
manis, polisakarida tidak mereduksi reaksi Benedict maupun Fehling.
Polisakarida berfungsi sebagai bahan makanan, terutama sebagai bahan makanan pembentuk
energi (Sumardjo, 2008).
Saat
direaksikan daengan benedict karbohirdat akan berubah warna menjadi merah dan
akan mengendap Harold (2003).
Bintang (2010) yang menyatakan bahwa pemanasan karbohidrat pereduksi dengan
pereduksi benedict akan terjadi perubahan warna dari biru menjadi hijau menjadi
kuning menjadi kemerah-merahan dan akhirnya terbentuk endapan merah bata
apabila konsentrasi karbohidrat pereduksi akan teroksidasi menjadi asam onat.
Bila di uji dengan asam pikrat karbohidrat yang mula-mula berwarna
kuning akan berubah menjadi berwarna merah tua Harold (2003). Bintang (2010) yang menyatakan bahwa uji
asam pikrat dengan trinito fenol atau asam pikrat jenuh dalam suasana basa
dapat di gunakan untuk menunjukan adanya karbohidrat pereduksi, hasil uji
positif di tunjukan oleh glukosa, fruktosa, maltosa, laktosa dan sirup. Semua
monosakarida dan disakarida membentuk warna merah bata.
2.3.
Protein
2.3.1. Pengertian
Protein
Protein
berfungsi sebagai enzim, hormon dan penyusun jaringan tubuh. Protein
dihidrolisis total dengan menggunakan asam maka akan menghasilkan asam amino.
Protein yang murni tersusun hanya dari asam amino saja, satu senyawa organic
dengan berat molekul rendah. Asam-asam ini saling mengikat secara kovalen
menjadi peptida, oleh karena itu protein disebut juga polipeptida. Protein
larut dalam senyawa non polar seperti kloroform, eter, benzene dan heksana (Martoharsono
dan Mulyono, 1976).
2.3.2.
Macam-macam Protein
Protein diklasifikasikan berdasarkan
fungsi biologik, kelarutan dan konformasi. Berdasarkan fungsi biologik protein
dibedakan menjadi enzim, protein cadangan, protein transport, protein
kontraktil, protein protektif dalam darah vertebrata, toksin, hormon serta
protein strukturil. Diantara jenis protein berdasarkan fungsi biologiknya,
enzimlah yang paling banyak jumlahnya yaitu sekitar 2.000 jenis. Contoh protein
jenis enzim adalah heksokinase, dehidrogenase laktat dan sitokrom. Contoh
protein cadangan anatara lain kasein dan gliadin. Contoh protein transport
antara lain hemoglobin yang berperan dalam transpor O2 dalam darah
vertebrata dan hemosianin yang berperan dalam transport O2 pada
darah invertebrata. Miosin, aktin dan dinein adalah contoh dari protein
kontraktil. Antibodi yang membentuk kompleks dengan prtoein asing adalah salah
satu contoh protein protektif dalam darah vertebrata. Contoh protein golongan
hormon adalah hormon insulin, hormon adrenokortikotropik dan hormon partumbuhan
(Martoharsono dan Mulyono, 1976).
Klasifikasi protein
berdasarkan atas kelarutannya anatra lain albumin, globulin, prolamin serta
glutelin. Albumin merupakan protein yang larut dalam air dan larut dalam garam
encer yang kadarnya tinggi. Globulin larut dalam garam encer tetapi tidak larut
sedikit sekali dalam akuades. Prolamin tidak larut dalam air tetapi larut dalam
alcohol 30-90%, kebanyakan prolamin terdapat dalam tanaman. Glutelin tidak
larut dalam air, garam encer maupun alkohol tetapi larut dalam asam atau basa
encer (Martoharsono dan Mulyono, 1976). Albumin dapat terakogulasi jika
dipanaskan. Contoh albumin adalah leukosin dan gandum. Globulin tersebar dalam
biji tumbuhan sayur dan polong-polongan. Prolamin memiliki kelarutan yang aneh
karena kadar prolina yang tinggi, contohnya yaitu zein dari jagung, gliadin
dari gandum, avenin dari Avena sativa dan horden dari barli (Hordenum sp.).
Contoh glutelin adalah glutenin dari gandum dan orizenin dari beras (Robinson,
1995).
Berdasarkan konformasinya
protein dibedakan menjadi protein fibrosa dan protein globular. Uji Biuret
suatu sampel yang mengandung protein akan berubah warna menjadi ungu.
Denaturasi adalah perubahan fisik yang terjadi akibat adanya perubahan struktur
tersier protein yang sudah lanjut, sehingga menyimpang dari bentuk alaminya.
Setelah sampel diberi uji xantho protein akan berubah warna menjadi kuning (Martoharsono
dan Mulyono, 1976). Uji Biuret diberikan oleh protein dan senyawa lain yang
mengandung gugus amida yang dihubungkan langsung atau melalui atom nitrogen
tunggal atau karbon. Pereaksi logam berat terdiri atas tembaga sulfat dalam
larutan natrium hiroksida pekat, dan hasil positif ditunjukkan oleh warna merah
jambu atau lembayung. Pengendap umum ialah ion logam berat (raksa (II) kloida,
perak nitrat, timbal asetat), serta larutan garam pekat (amonium sulfat,
natrium klorida dan natrium sulfat) (Robinson, 1995). Uji biuret diberikan oleh protein dan
senyawa lain yang mengandung gugus amida yang di hubungkan langsung atau
melalui ato nitrogen tunggal atau karbon Pond et al (1995). Larutan Na2CO3 minyak
membentuk emulsi, ketika dilarutkan kedalam larutan campuran air dan Na2CO3,
karena Na2CO3
merupakan zat emulgator. Sehingga pada penambahan lemak kedalam larutan
air dan Na2CO3 membantu menurunkan tegangan permukaan
air. Protein dapat mengalami
denaturasi karena perubahan suhu, ph,dan garam garam logam. Denaturasi
adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terlarutnya ikatan
hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang memutuskan molekul protein Fessenden
(1989). Akibat dari suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat-sifat
biologis suatu protein. Denaturasi
adalah proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam,
dan terbentuknya lipatan atau wiru molekul protein Winarno (1992).
2.4.Lemak
2.4.1. Pengertian Lemak
Lemak adalah suatu golongan senyawa
heterogenus yang larut dalam pelarut organik seperti eter, kloroform dan
aseton. Membran lipid terdiri dari tiga jenis utama yaitu fosfolipid,
glikolipid dan sterol. Membran lipid berfungsi sebagai struktur semifluida
(semicair) dua dimensi yang menggunakan molekul-molekul protein yang tertanam
di dalamnya bergerak secara cukup bebas melalui difusi lateral. Lehninger
(1982) bahwa lemak adalh senya organik, berminyak tidak larut dalam air, yang
dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut non polar, seperti ChCl3
dan eter. Fessenden (1986) yang menyatakan bahwa lemak dapat didefinisikan
sebagai non polar seperti dieter.
Lemak adalah suatu golongan senyawa
tersendiri yang seringkali bergabung dengan golongan senyawa lain seperti
karbohidrat dan protein dengan nama glikolipida dan glikoprotein. Lemak
merupakan senyawa yang tidak larut dalam air (Martoharsono dan Mulyono, 1976).
Fungsi utama lemak pada semua jenis sel berakar dari kemampuannya membentuk
membran berbentuk seperti lembaran-lembaran dan sebagain media penyimpanan
energy yang efisien bagi makhluk hidup. Gajeh (lemak) berbentuk padat, karena hidrolisis yang berlangsung
lama dan menghasilkan asam lemak bebas, sedangkan pada minyak tidak terjadi
Hart (1998). Karena tidak terjadi hidrolisis, maka hal ini sesuai dengan
pendapat Soemarjo (1998) bahwa lemak adalah senyawa gliserol dan eter, asam
lemak atau gliserida yang bersifat padat dan dengan ketentuan yang berbeda.
2.4.2. Macam-macam Lemak
Ada beberapa cara untuk
mengklasifikasikan lemak. Salah satu diantaranya adalah berdasarkan kerangka
dasarnya. Berdasarkan kerangka dasarnya, lemak dibagi menjadi dua yaitu lemak
kompleks dan sederhana. Jenis lemak kompleks antara lain asigliserol,
fosfogliserida, sfingolipida dan lilin. Jenis-jenis lemak sederhana antara lain
terpena, steroida dan prostaglandin (Martoharsono dan Mulyono, 1976). Lemak
meliputi lemak netral, asam lemak, minyak, fosfolipid, lilin, sterol dan
derivatnya. Lemak netral biasanya disebut gliserida asil, secara kimia
merupakan ester dari gliserol.
Asam lemak memiliki lebih dari 100
jenis, disebut juga asam karboksilat karena mengandung gugus karboksil. Asam
lemak ada dua macam yaitu asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak yang
terdapat dalam alam ada dua yang sifatnya esensial bagi hewan tingkat tinggi
(mamalia) yaitu asam linoleat dan linolenat. Fungsi utama asam esensial adalah
sebagai prekursor pada sintesa prostaglandin (Martoharsono dan Mulyono,1976).
Asam lemak merupakan asam monokarboksilat yang tidak bercabang, yang jarang
tampak sebagai molekul bebas di alam. Asam lemak jenuh merupakan senyawa yang
kurang relatif yang titik leburnya tidak sebanding dengan penambahan panjang
rantainya. Asam lemak dengan 12 atom karbon atau lebih pada temperature kamar
adalah asam palmitat dan asam stearat. Semua asam lemak tidak jenuh merupakan
zat cair pada temperatur kamar dan memiliki sifat polar. Trigliserida merupakan
lemak yang pada umumnya mempunyai tiga rantai asam lemak. Trigliserida merupakan
tempat penyimpanan energi sel yang berbentuk padat atau cair.
Sabun dapat digunakan sebagai emulsifier
untuk membantu emulsi. Jika mentega dicampur dengan air akan terpisah, jika
dalam campuran tersebut ditambahkan emulsifier dan diaduk-aduk maka akan terbentuk
emulsi Djojosumarto (2008).
Reaksi yang menimbulkan
sabun terjadi antara triasilgliserol dengan basa. Fosfolipid atau
fosfogliserida senyawa induknya ialah senyawa asam fosfatidat (Martoharsono dan
Mulyono, 1976). Fosfolipid adalah kelompok lipid yang paling penting pada
sistem membran. Terdapat pada hewan dan tumbuhan dan beberapa diantaranya
spesifik untuk jaringan otak. Lesitin atau fosfatidilkolin merupakan suatu
senyawa fosfolipid yang penting, mempunyai satu gugus polar kecil dan suatu rantai
hidrokarbon hidrofobik yang panjang. Fosfolipid membantu dalam pertukaran ion,
interseluler dan ekskresi seluler serta memelihara struktur dan fungsi sel pada
makhluk hidup.
Lilin terdiri dari kombinasi
asam lemak denga sebuah monohidroksi alkohol dengan berat molekul yang cukup
banyak. Lilin biasanya berbentuk padat pada suhu kamar. Lilin tidak larut dalam
air, merupakan ester asam lemak dengan monohidroksi alkohol beratom C banyak
atau dengan sterol. Lilin merupakan lapisan-lapisan pelindung yang terdapat
pada kulit, sayap, buah dan daun serta bagian tubuh yang lainnya (Martoharsono
dan Mulyono, 1976).
Steroida yang memiliki lima
atom C (isoprena) merupakan komposisi biologi yang penting sebagai sterol, asam
empedu, hormon adrenal dan hormon reproduksi. Senyawa ini mengandung cincin
perhidrosiklopentano fanantrena yang berasal dari siklisasi skualena (Martoharsono
dan Mulyono, 1976).
Terpena terdiri dari sebuah
struktur yang relatif sama dengan isoprena. likopen, vitamin A dan klorofil.
Contoh senyawa yang tergolong dalam terpena yang rantainya terbuka ialah
geraniol, farnesol, fitol dan skualen. Terpena berfungsi sebagai pengangkut
electron pada fosforilasi oksidatif dan electron transport. Prostaglandin
berasal dari siklisasi asam lemak tidak jenuh beratom C 20. Fungsi
prostaglandin adalah sebagai senyawa yang dapat merendahkan tekanan darah dan
memacu kontraksi jaringan tertentu pada makhluk hidup (Martoharsono dan
Mulyono, 1976).
Reaksi antara triasigliserol
dengan basa dinamakan penyabunan, nama itu berasal dari terbentuknya sabun dari
reaksi yang terjadi. Basa yang digunakan ialah KOH atau NaOH. Salah satu cara
untuk mengetahui sifat ketidak jenuhan suatu asam lemak dapat dipergunakan uji
yodium. Rasa dan bau yang tidak menyenangkan yang timbul bila lemak disimpan
terlalu lama disebabkan karena dua hal yaitu hidrolisis dan oksidasi. Proses
hidrolisis dihasilkan oleh adanya asam lemak bebas dan gliserol pada suatu zat,
reaksi oksidasi merupakan reaksi yang terjadi atas bantuan oksigen
(Martoharsono dan Mulyono, 1976).
BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum
Kimia Dasar dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober 2012 pukul 15.00
–18.00 WIB dengan materi Analisa Kuantitatif dan Karbohidrat serta hari Sabtu
tanggal 10 November 2012 pukul 15.00 – 18.00 WIB dengan materi Protein dan
Lemak di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan dan
Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
3.1.
Materi
Alat yang yang
digunakan dalam Praktikum Analisa Kuantitatif adalah Buret yang yang digunakan
untuk mengatur keluarnya larutan pada saat proses titrasi. Erlenmeyer digunakan
untuk mengencerkan Asam Oksalat dan juga Asam Cuka Sukasari. Labu takar
digunakan untuk tempat titrasi NaOH dan juga Asam Oksalat.Bahan yang digunakan
dalam praktikum pengenalan analisa kuantitatif antara lain Asam Oksalat (H2C2O4)
yang digunakan sebagai media, Asam
Cuka Sukasari sebagai media fenolftalein (PP) 1% yang merupakan indikator.
![]() |
3.2.
Metode
3.2.1. Analisis Kuantitatif
3.2.1.1.Standarisasi NaOH dengan Asam
Oksalat Standar, standarisasi NaOH dengan larutan
Asam Oksalat Standar di lakukan dengan menimbang dengan tepat 0,63 gr Asam
Oksalat (H2C2O4.2H2O) kemudian Asam Oksalat yang sudah ditimbang kedalam
aquades, encerkan menjadi 100 ml dengan
pipet 15 tetes NaOH kemudian tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein
(PP) dititrasi dengan asam oksalat standar sedikit demi sedikit hingga warna
merah muda pada larutan tepat hilang,
mencatat volume Asam Oksalat yang di perlukan, melakukan titrasi satu kali dan melakukun
perhitungn normalisasi NaOH menggunakan rumus
Keterangan :
N1
= Normalisasi Asam Oksalat
V1
= Volume Asam Oksalat
N2
= Normalitas NaOH
V2 = Volume NaOH
3.2.1.2. Penetapan Kadar Asam Cuka, penetapan kadar asam cuka
dapat di lakukan denagn cara mengisis larutan NaOH yang telah diketahui
konsentrasinya ke dalam buret, lalu ambil 15 ml asam cuka Suka Sari dan
mengencerkannya dengan aquades 150 ml,
memipet 5 ml asam cuka yang telah di encerkan kemudian memasukkan ke dalam erlenmeyer, menambahkan 3 tetes indikator
Fenolftalein, lalu menitrasi larutan 2 kali dengan larutan NaOH sampai muncul
warna merah muda, ulangi titrasi sebanyak 2 kali kemudian mencatat volume yang
diperlakukan, kemudian menghitung kadar
asam cuka dengan rumus :
keterangan :
V1= Volume NaOH
N =
Normalitas NaOH
B = Berat
Molekul NaOH
P =
Pengenceran
V2 =
Volume Asam Cuka
3.2.2. Karbohidrat
3.2.2.1.Uji Kelarutan, metode pertama yang harus dilakukan dalam
Uji kelarutan adalah menyiapkan
tujuh tabung reaksi lalu memasukkan berturut – turut glukosa, fruktosa,
laktosa, sukrosa, kanji, sirup dan madu kemudian mencatat warna dari bentuk
fisik karbohidrat tersebut. Kemudian menambahkan 10 tetes aquades ke setiap
tabung reaksi selanjutnya menutup dengan ibu kari dan mengojog dengan baik
kemudian membandingkan kelarutan masing-masing karbohidrat dan mencatat dalam
lembar pengamatan.
3.2.2.2.Uji Fehling, metode pertama yang harus dilakukan dalam
Uji fehling adalah menyiapkan tujuh tabung
reaksi berturut-turut, mengisi dengan 10 tetes larutan laktosa, sukrosa,
glukosa, fruktosa, maltosa, sirup dan madu, khusus sirup yang mempunyai
konsentrasi 2%, menambahkan 5 tetes Fehling A dan Fehling B, pada masing –
masing tabung reaksi, selanjutnya menggojog, menempatkan tabung reaksi tersebut
di atas pemanas air selama 10 menit, kemudian mengamati dan mencatat perubahan
yang terjadi pada lembar pengamatan, Uji positif jika terjadi endapan berwarna
merah bata.
3.2.2.3.Uji Benedict, metode pertama yang harus dilakukan dalam
Uji Benedict adalah menyiapkan 5 tabung reaksi, kemudian memasukan 10 tetes
larutan glukosa ke dalam tabung reaksi, menambahkan 10 tetes pereaksi Benedict
dan menggojog berulang kali, memanaskan beberapa saat, maka akan terjadi
perubahan warna, selanjutnya mengamati dengan teliti dan mencatat pada lembar
pengamatan. Reaksi positif jika terbentuk endapan berwarna merah bata, ulangi
pengujian terhadap larutan fruktosa, laktosa, maltosa, dan juga sirup 2%.
3.2.2.4.Uji Asam Pikrat Jenuh,
metode pertama pada praktikum karbohidrat uji asam pikrat yaitu
dengan langkah antara lain, yaitu menyiapkan 5 tabung reaksi, memasukan 10
tetes glukosa ke dalam tabung reaksi, menambahkan larutan asam pikrat jenuh 5
tetes dan natrium karbonat 5 tetes, memanaskan
beberapa saat dan mengamati perubahan warna yang lain. Reaksi positif
jika terbentuk warna merah muda, mengulangi pengujian terhadap larutan
fruktosa, laktosa, maltosa, dan sirup.
3.2.3. Protein
3.2.3.1. Uji Biuret, uji biuret di awali dengan mencampurkan 10
tetes putih telur dengan 2 tettes NaOH 10% dalam tabung reaksi. Menambahlan
dengan tepat 2 tetes larutan CuSO4 0,5% dan menggojognya. Mengamati
perubahan warna. Bila reaksi positif terbentuk warna merah muda atau ungu.
3.2.3.2. Presipitasi dengan Larutan Garam Logam Berat, uji presipitasi diawali dengan langgkah
menyediakan 3 tabung reaksi yang bersih dan mengisi masing-masing tabung dengan
larutan putih telur encer. Pada tabung pertama menambahkan larutan FeCl3, pada
tabung ke-2 menambahkan larutan CuSO4, pada tabung ke-3 menambahkan
larutan HgCl2. Menggojog sampel lalu mengamati dan menbandingkan
warna endapan yang terbentuk, mencatat hasil pengamatan pada lembar pengamatan.
3.2.4. Lemak
3.2.4.1.Uji Sifat Fisik, Kekentalan, dan Bau,
Metode pertama
praktikum percobaan sifat fisik lemak adalah menyiapkan bahan dan alat. Bahan
dan alat tersebut antara lain tabung reaksi, minyak kelapa dan lemak (gajeh).
Kemudian menguji semua sampel. Setelah itu mencatat hasil percobaan pada buku
yang sudh disediakan.
3.2.4.2. Uji Kelarutan, menyediakan lima tabung reaksi,
tabung pertama diisi air sepuluh
tetes, tabung kedua diisi bensena sepuluh tetes, tabung ketiga diisi Na2CO3
sepeluh tetes, tabung ke empat diisi alkohol dan tabung kelima disisi
eter yang masing-mamsing tabung sepuluh tetes.
3.2.4.3.Uji Emulsi, metode ketiga praktikum lemak yaitu Uji
Emulsi, yang dilakukan dengan langkah diantaranya menyiapkan tiga tabung
reaksi, dalam mengisi tabung reaksi meggunakan pipet tetes, pada tabung kesatu
sebanyak sepuluh tetes air (aquades) dengan sepuluh tetes minyak kelapa, tabung
kedua sebanyak sepuluh tetes air (aquades) dengan sepuluh tetes minyak kelapa
beserta sepuluh tetes Na2CO3 dan tabung ketiga sebanyak
sepuluh tetes air (aquades) dengan sepuluh tetes minyak kelapa beserta sepuluh
tetes air sabun. Kemudian menggojok masing-masing dengan sempurna, dan
membiarkannya selama beberapa saat, lalu mengamati emulsi pada masing-masing
tabung, dan selanjutnya ulangi percobaan pertama dengan menggunakan mentega dan
margarin.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisa Kuantitatif
4.1.1. Standarisasi NaOh dengan Larutan Asam Oksalat Standar
Tabel 1. Standarisasi NaOH dengan Larutan asam Oksalat
|
Titrasi
|
Volume Asam Oksalat(ml)
|
|
I
|
10
|
|
II
|
9,8
|
|
Rata-rata
|
9,9
|
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia
Dasar,2012.
Pada
tabel titrasi di atas menunjukkan bahwa larutan yang dititrasi menunjukkan
hasil yang berbeda-beda dari kedua perbedaan hasil titrasi tersebut diambil
atau dihitung rata-rata dari keduanya, kemudian digunakan untuk menghitung
normalisai NaOH. Pada Larutan yang dititrasi terjadi perubahan warna yang
menunjukkan bahwa reaksi tersebut sudah berjalan benar, sehingga pada buret
dapat dilihat denagn skala ukurnya, jumlah volume larutan yang digunakan untuk
menitrasi, sehingga dapat menghitung normalisasi NaOH. Hal ini sesuai dengan
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Fressenden (1999) yang menyatakan bahwa
titrasi dapat terjadi perubahan warna yang menunjukkan bahwa reaksi tersebut
berjalan de4nagn sempurna. Hal tersebut juga didukung dengan pendapat Underwood
(1999) yang menyatakan bahwa tercapainya titik akhir dari titrasi yaitu
terjadinya endapan dan mencapai keseimbangan pada penambahan tiap titrasi.
Selain
dari kedua pendapat ilmuan tersebut hal yang sama juga di ungkapkan oleh
Martoharsono (2006) bahwa jika NaOH dengan Fenolftalein (pp)
Direaksikn maka akan terjadi
perubahan warna, larutan yang semula berwarna merah muda karena larutan
tersebut bersifat basa, berubah putih yang menandakan sifat netral.
4.1.2.
Penetapan
Kadar Asam Cuka
Tabel 2. Penetapan Kadar Asam Cuka
|
Titrasi
|
Volume
NaOH (ml)
|
|
I
|
12
|
|
II
|
8,5
|
|
Rata-rata
|
10,5
|
Sumber : Data Primer Praktikum
Kurnia Dasar, 2012.
Pada
tabel diatas menunjukkan bahwa pada penetapan kadar asam cuka , asam cuka yang
yang telah ditetesi dengan indikator fenolftalein (PP) akan berubah atau
bersifat netral, kemudian setelah di titrasi dengan larutan NaOH akan Berubah
warna menjadi merah muda. Hal itu menunjukkan bahwa terjadi reaksi yang
sempurna pada saat larutan berubah warna menjadi merah muda, reaksi tersebut
biasa karena reaksi tersebut disebut dengan reaksi titrasi menitrasi atau
menitir.
Hal
tersebut sesuai dengan teori Hawab (2003) yang menyatakan bahwa , sampel pada
titik akhir dari suatu proses titrasi adalah tidak mengalami pengendapan,
mungkin di karenakan adanya adnya zat lain yang mengkontaminasinya. Hal senada
juga di ungkapkan oleh Bintang (2010) yang menyatakan bahwa adanya faktor yang
menyebabkan kenaikan volume pada proses penetapan kadar asam cuka yaitu
melambatnya reaksi titrasi yang terjadi.
4.2.
Karbohidrat
4.2.1. Uji Kelarutan
Tabel 3. Hasil Uji Kelarutan (sifat fisik)
|
Sampel
|
Warna
|
Bentuk
|
Keterangan
|
|
Glukosa
|
Bening
|
Larutan
|
Larut
|
|
Fruktosa
|
Bening
|
Larutan
|
Larut
|
|
Laktosa
|
Bening
|
Larutan
|
Larut
|
|
Maltosa
|
Bening
|
Larutan
|
Larut
|
|
Sukrosa
|
Bening
|
Larutan
|
Larut
|
|
Sirup
|
Merah muda bening
|
Cairan
|
Larut
|
|
Madu
|
Kuning Bening
|
Larutan
|
Larut
|
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012
Praktikum karbohidrat dengan materi
uji kelarutan di gunakan untuk mengetahui monosakarida (glukosa, fruktosa,
maltosa) dan golongan karbohidrat di sakarida (laktosa, sukrosa), sedangkan
sirup dan madu juga menghasilkan bentuk fisik larut yang memiliki sifat larut
dalam air. Hal ini sesuai dengan pendapat Hard (2003) yang mengatakan bahwa
monosakarida larut dalam air, Dan di dukung oleh Hawab (2003) yang menyatakan
bahwa sampel apabila di tambahkan aquades, maka akan membentuk suatu larutan
yang mengakibatkan warnanya menjadi keruh atau jernih.
4.2.2.
Uji Fehling
Berdasarkan hasil praktikum karbohidrat
dengan materi uji fehling yang telah di lakukan, di peroleh hasil sebagai
berikut :
Tabel 4. Hasil Uji
Fehling
|
Sampel
|
Reaksi ( +/- )
|
Keterangan
|
|
Laktosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Sukrosa
|
-
|
Biru menjadi hijau kekuningan
|
|
Glukosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Fruktosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Maltosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Sirup
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Madu
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
Sumber : Data Primer Praktikum
Kimia Dasar, 2012
Praktikum karbohidrat dengan materi Uji
Fehling A, Fehling B. Fehling A merupakan larutan CuSO4 dalam air.
Sedangkan Fehling B merupakan larutan garam K Natartat dan NaOH dalam air, di
gunakan untuk menunjukan sifat khusus karbohidrat dengan adanya karbohidrat
pereduksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Hawab (2003) yang menyatakan bahwa
semua monosakrida dan disakarida merupakan gula pereduksi terhadap fehling, hal
senada juga di tambahakan oleh Martoharsono (2006) yang menyatakan bahwa,
golongan karbohidrat monosakarida dan diskarida bereaksi positif terhadap
larutan fehling, di mana terdapat kegiatan mereduksi larutan fehling di dalam
larutan tersebut.
4.2.3.
Uji Benedict
Berdasarkan hasil
prsktikum karbohidrat materi uji Benedict yang sudah di lakukan, di peroleh
hasil sebagai berikut :
Tabel 5. Hasil Uji Benedict
|
Sampel
|
Reaksi ( +/-)
|
Keterangan
|
|
Glukosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Fruktosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Maltosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Laktosa
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
|
Sirup
|
+
|
Biru menjadi merah bata
|
Sumber : Data Primer Praktikum
Kimia Dasar, 2012
Praktikum karbohidrat dengan materi Benedict
di gunakan untuk menunjukan sifat khusus karbohidrat. Uji Benedict juga
merupakan modifikasi reaksi fehling , hasil uji positif pada benedict adalah
adanya endapan berwarna merah bata. Hal ini sesuai dengan pendapat Harold
(2003) yang menyatakan bahwa karbohidrat berubah warna menjadi merah bata dan
terjadi endapan apabial di tambah pereaksi Benedict. Hal itu di tambahkan oleh
Bintang (2010) yang menyatakan bahwa pemanasan karbohidrat pereduksi dengan
pereduksi benedict akan terjadi perubahan warna dari biru menjadi hijau menjadi
kuning menjadi kemerah-merahan dan akhirnya terbentuk endapan merah bata
apabila konsentrasi karbohidrat pereduksi akan teroksidasi menjadi asam onat.
4.2.4.
Uji
Asam pikrat
Berdasarkan
praktikum karbohidrat dengan materi uji asam pikrat yang ntelah di lakukan, di
peroleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6. Uji Asam Pikrat
|
Sampel
|
Reaksi (+/-)
|
Keterangan
|
|
Glukosa
|
+
|
Kuning menjadi merah bata
|
|
Fruktosa
|
+
|
Kuning menjadi merah bata
|
|
Maltosa
|
+
|
Kuning menjadi merah bata
|
|
Laktosa
|
+
|
Kuning menjadi merah bata
|
|
Sirup
|
+
|
Kuning menjadi merah tua
|
Sumber : Data Primer Praktikum
Kimia Dasar, 2012
Praktikum karbohidrat dengan materi uji
asam pikrat digunakan untuk menunjukan adanya karbohidrat pereduksi. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Harold (2003) yang menyatakan bahwa karbohidrat
apabila di tambah dengan asam pikrat dan larutan yang mula-mula berwarna kuning
akan berubah menjadi berwarna merah tua, hal senada juga di kemukakan oleh
Bintang (2010) yang menyatakan bahwa uji asam pikrat dengan trinito fenol atau
asam pikrat jenuh dalam suasana basa dapat di gunakan untuk menunjukan adanya
karbohidrat pereduksi, hasil uji positif di tunjukan oleh glukosa, fruktosa,
maltosa, laktosa dan sirup. Semua monosakarida dan disakarida membentuk warna
merah bata.
![]() |
4.3.
Protein
4.3.2.
Uji
Biuret
Berdasarkan
hasil praktikum Protein dengan materi Uji Biuret yang telah di lakukan, di
peroleh hasil sebagai berikut :
Tabel 7. Uji biuret
|
Sumber:
Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Praktikum kimia dasar dengan materi uji
biuret diperoleh hasil pengamatan seperti tabel. Pada tabel di atas albumin atau putih telur dan albumin susu
setelah diberi pereaksi biuret dan di gojog, warna albumin yang semula bening
berubah menjadi warna ungu serta mengalami penggumpalan. Hal ini di sebabkan
senyawa Cu2+ membentuk senyawa kompleks dengan gugus Cu dan NH . Uji biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
gugus amida yang ada pada suatu zat, dimana dalam suasana basa Cu bereaksi
dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna ungu. Hal ini
sesuai dengan pendapat Pond et al. (1995) yaitu uji biuret diberikan
oleh protein dan senyawa lain yang mengandung gugus amida yang di hubungkan
langsung atau melalui ato nitrogen tunggal atau karbon. Hal yang sama juga
dikemukakan oleh Martoharsono (1976)
yang menyatakan bahwa bila di tambahkan pereaksi biuret maka sampel yang
mengandung protein akan berubah warna menjadi ungu. 
4.3.3.
Presipitasi dengan Larutan Garam Logam Berat pada Putih Telur
Tabel 8. Uji Pesipitasi
dengan Larutan Garam Logam Berat pada
Putih Telur
|
Reagen
|
Reaksi(+/-)
|
Keterangan
|
|
FeCl3
CuSO4
HgCl2
|
+
+
+
|
Mengendap,
menghasilkan warna orange
Mengendap,
menghasilkan warna biru
Mengendap,
menghasilkan warna putih
|
Sumber: Data Primer
Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Praktikum kimia dasar dengan materi uji
presipitasi dengan larutan
garam logam berat pada putih telur diperoleh hasil pengamatan seperti pada
tabel. Pada tabel di atas albumin
yang semula bening berubah menjadi biru muda dan terbentuk endapan. Pada tabung
kedua ketika di tetesi CuSO4, yang semula berwarna bening berubah
menjadi biru muda dan terbentuk endapan. Pada tabung reaksi ketiga albumin yang semula bening berubah warna
putih dan terbentuk endapan. Setelah ditetesi dengan HgCl2. Hal ini
menunjukan protein akan mengalami denaturasi yang disebabkan oleh logam berat.
Pada percobaan , semua sampel menunjukan reaksi positif karena sampel mengendap
dan mengalami perubahan warna. Hal ini sesuai dengan pendapat Robinson (1995)
yaitu pengendap umum adalah ion logam berat serta larutan garam pekat. Garam
logam berat seperti Ag, Pb, dan Hg akan membentuk endapan logam proteinat.
Poedjiadi (1994) menyatakan bahwa ikatan yang terbentuk asam kuat dan akan
memutuskan jembatan garam sehingga protein mengalami denaturasi dengan ion logam
berat dan membentuk senyawa khelat. Senyawa khelat adalah senyawayang dihasilkan oleh
kombinasi senyawa yang mengandung gugus elektron donor yang dapatmembentuk
suatu struktur cicin. Ion-ion tersebut
adalah Hg+ , Zn2+, Hg2+, Fe2+, Cu2+,
Co2+, Mn2+, Pb2+. Selain gugus COOH dan gugus
NH2, gugus R pada molekul asam amino tertentu dapat pula mengadakan reaksi
dengan ion atau senyawa lain, gugus sulfihidril(-SH) pada molekul sistein akan
bereaksi dengan ion Ag+ atau Hg+.
4.3.4.
Presipitasi dengan Larutan Garam Logam Berat pada Susu Segar
Tabel 9. Uji Presipitrasi dengan Larutan Garam Logam Berat
pada Susu murni.
|
Reagaen
|
Reaksi (+/-)
|
Keterangan
|
|
FeCl3
CuSO4
HgCl2
|
+
+
+
|
Mengendap
menghasilkan warna orange
Mengendap
menghasilkan warna biru muda
Mengendap
menghasilkan warna putih
|
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Praktikum kimia dasar dengan materi uji
presipitasi dengan larutan garam logam berat pada susu murni di peroleh hasil
pengamatan seperti tabel. Pada tabel diatas sampel susu dengan reagen FeCl3
menunjukan reaksi positif dengan terbentuknya endapan dan muncul warna orange.
Pada sampel kedua dengan reagen CuSO4 menunjukan reaksi positif
dengan terbentuknya endapan dan warna biru muda. Pada sampel ketiga menunjukan
reaksi positif dengan terbentuknya endapan dan warna putih setelah di tetesi
dengan HgCl2. Pada semua sampel terjadi endapan dikarenakan adanya
perubahan konformasi serta posisi protein sehingga aktifitasnya berkurang. Hal
ini sesuai dengan pendapat Fessenden (1989) yang menyatakan bahwa Denaturasi
adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terlarutnya ikatan
hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang memutuskan molekul protein. Akibat
dari suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat-sifat biologis suatu
protein. Hal yang serupa juga di sampaikan oleh winarno (1992) yang menyatakan
denaturasi adalah proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik,
ikatan garam, dan terbentuknya lipatan atau wiru molekul protein.
4.4.
Lemak
4.4.1.
Uji Sifat
Fisik, Kekentalan dan Bau
Berdasarkan hasil praktikum lemak dengan
materi Uji Sifat Fisik Lemak yang telah
di lakukan, di peroleh hasil sebagai berikut :
Tabel 10. Hasil Uji Sifat
Fisik, Kekentalan, dan Bau.
|
Sampel
|
Kekentalan
|
Bau
|
Sifat Fisik
|
|
Minyak Kelapa
|
Cair
|
Berbau gurih
|
Berwarna Kuning
|
|
Lemak (Gajeh)
|
Padat
|
Amis, Prengus
|
Tidak larut air, bentuk padat
|
Sumber : Data Primer Praktikum
Kimia Dasar, 2012
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan
diketahui, minyak kelapa memiliki kekentalan yang rendah, berbau khas dari
minyak, dan berwarna kuning, sedangkan pada sampel lemak (gajeh) kekentalannya,
kental (padat, berbau amis, dan sifat fisiknya berwarna putih, komponen yang
menyebabkan bau pada lemak dan minyak dapat diidentifikasi langsung, karena
telah diketahui yang menyebabkan flavor dan odor baik dalam minyak binatang
atau dalam minyak tumbuh-tumbuhan adalah hidrokarbon tak jenuh yang tinggi dan
strukturnya berhubungan dengan karotin yaitu skualena dan gadusena, sehingga
berbau khas. Hal ini sesuai dengan pendapat Hart (1998) yang menyatakan bahwa
gajeh (lemak) berbentuk padat, karena hidrolisis yang berlangsung lama dan
menghasilkan asam lemak bebas, sedangkan pada minyak tidak terjadi. Karena
tidak terjadi hidrolisis, maka hal ini sesuai dengan pendapat Soemarjo (1998)
bahwa lemak adalah senyawa gliserol dan eter, asam lemak atau gliserida yang
bersifat padat dan dengan ketentuan yang berbeda.
4.4.2. Uji Kelarutan Lemak
Berdasarkan hasil
praktikum lemak dengan materi Uji Kekentalan Lemak yang telah di lakukan, di
peroleh hasil sebagai berikut :
4.4.2.1. Uji Kelarutan Minyak Kelapa
Tabel 11. Hasil Uji
Kekentalan Lemak dengan Minyak Kelapa
|
Sampel
|
Minyak Kelapa
|
Bau
|
Sifat Fisik
|
|
Air
|
Tidak Kental
|
Tidak Bau
|
Tidak Larut
|
|
Na2CO3
|
Kental
|
Tidak Bau
|
Tidak larut
|
|
Alkohol
|
Tidak Kental
|
Khas
|
Tidak larut
|
|
Eter
|
Agak Kental
|
Khas
|
larut
|
|
Clorofom
|
Tidak Kental
|
Khas
|
larut
|
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
4.4.2.2. Uji
Kelarutan Mentega
Tabel 12. Hasil Uji
Kekentalan Lemak dengan Mentega
|
Sampel
|
Mentega
|
Bau
|
Sifat Fisik
|
|
Air
|
Cair
|
Khas
|
Tidak Larut
|
|
Na2CO3
|
Agak Kental
|
Khas
|
Tidak larut
|
|
Alkohol
|
Agak Kental
|
Khas
|
Tidak larut
|
|
Eter
|
Cair
|
Khas
|
Tidak larut
|
|
Clorofom
|
Agak Kental
|
Khas
|
larut
|
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
4.4.2.3. Uji
Kelarutan Margarin
Tabel 13. Hasil Uji
Kekentalan Lemak dengan Margarin
|
Sampel
|
Mentega
|
Bau
|
Sifat Fisik
|
|
Air
|
Cair
|
Khas
|
Tidak Larut
|
|
Na2CO3
|
Agak Kental
|
Khas
|
Tidak Larut
|
|
Alkohol
|
Agak Kental
|
Khas
|
Tidak Larut
|
|
Eter
|
Cair
|
Khas
|
Tidak Larut
|
|
Clorofom
|
Agak Kental
|
Khas
|
larut
|
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan percobaan lemak yang telah
dilakukan dapat diketahui pelarut air pada uji kelarutan lipid bila ditambah
dengan minyak kelapa, margarin dan mentega tidak bisa larut, begitu juga dengan
Na2CO3 jika ditambah minyak kelapa dan margarin tidak
larut, tetapi apabila ditambah dengan
mentega maka akan larut. Kenudian pelarut alkohol jika ditambah dengan minyak
akan larut tapi hanya sedikit, sedangkan apabila ditambah dengan mentega dan
margarin alkohol akan larut. Kemudian pada pelarut cloroform apabiala ditambah
dengan minyak kelapa, mentega dan margarin semuanya akan larut, Begitu juga
dengan pelarut eter apabila ditambah dengan minyak kelapa, mentega dan margarin
semuanya akan larut, hal ini terjadi karena pada umumnya lemak tidak larut
dalam air, lemak ada yang berbentuk cair pada suhu kamar. Hal ini sesuai dengan
pendapat Lehninger (1982) bahwa lemak adalh senya organik, berminyak tidak
larut dalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut non
polar, seperti ChCl3 dan eter. Hal itu juga sependapat dengan
Fessenden (1986) yang menyatakan bahwa lemak dapat didefinisikan sebagai non
polar seperti dieter.
4.4.3. Uji Emulsi Lemak
4.4.3.1. Uji Emulsi Minyak Kelapa
Tabel 14. Hasil Uji Pembentukan
Emulsi dengan Minyak Kelapa
|
Sampel
|
Kekentalan
|
Bau
|
Keterangan
|
|
Air
|
Kental
|
Tidak Berbau
|
Teremulsi
|
|
Na2CO3
|
Kental
|
Tdak Berbau
|
Teremulsi
|
|
Air Sabun
|
Encer
|
Barbau wangi sabun
|
Tidak teremulsi
|
Sumber : Data
Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012
4.4.3.2. Uji Emulsi Mentega
Tabel 15. Hasil Uji Pembentukan
Emulsi dengan Mentega
|
Sampel
|
Kekentalan
|
Bau
|
Keterangan
|
|
|
Air
|
Cair
|
|
Tidak Berbau
|
Teremulsi
|
|
Na2CO3
|
Cair
|
Agak Berbau
|
Teremulsi
|
|
|
Air Sabun
|
Cair
|
Barbau Sabun
|
Teremulsi
|
|
Sumber : Data
Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012
4.4.3.3. Uji Emulsi Margarin
Tabel 16. Hasil Uji Pembentukan
Emulsi dengan Margarin
|
Sampel
|
Kekentalan
|
Bau
|
Keterangan
|
|
Air
|
Kental
|
Menyangat
|
Tidak teremulsi
|
|
Na2CO3
|
Encer
|
Bau biasa
|
Tidak teremulsi
|
|
Air Sabun
|
Kental
|
Barbau Sabun
|
Teremulsi
|
Sumber : Data
Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012
Berdasarkan
percobaan Uji Pembentukan Emulsi yang telah dilakukan bahawa pada air yang
ditambah dengan minyak kelapa, mentega dan margarin tidak berbau dan tidak
mengalami emulsi. Kemudian Pada Na2CO3 yang ditambah
dengan minyak kelapa tidak berbau dan tidak mengalami emulsi, akan tetapi Na2CO3
yang ditambah dengan mentega dan margarin agaak berbau dan mengalami
emulsi hanya saja emulsi sedikit. Dan yang terakhir pada Air sabun yang
ditambah dengan minyak kelapa, mentega dan margarin semuanya mengalami emulsi
sempurna. Hal ini sesuai dengan pendapat Martoharsono dan Mulyono (1976) yang menyatakan
bahwa yang menimbulkan sabun beremulsi, karena reaksi antara triasilgliserol
dengan basa. Sedangkan saat dicampur dengan air, larutan tersebut tidak
membentuk emulsi, dan justru akan mengendap. Hal ini sesuai dengan pendapat
Djojosumarto (2008) yang menyatakan bahwa emulsifier digunakan untuk membantu
emulsi. Jika mentega dicampur dengan air akan terpisah, jika dalam campuran
tersebut ditambahkan emulsifier dan diaduk-aduk maka akan terbentuk emulsi.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Pada praktikum
Analisa Kuantitatif , Karbohidrat, Protein, Lemak,dapat diketahui bahwa pada
Analisa Kuantitatif terjadi reaksi penetralan antara basa kuat (NaOH) dengan
Asam Lemah (CH3COOH) dan dapat diketahui kadar suatu zat pada suatu
bahan. Karbohidrat berdasarkan hidrolisisnya dibagi menjadi tiga macam , yaitu
monosakrida, oligosakarida, dan polisakarida, baik yang yang berfungsi sebagai
pembangun struktur maupun yang berperan fungsional dalam proses metabolisme. Protein
dapat diketahui bahwa protein dapat mengalami denaturasi, hal-hal yang
,mempengaruhi denaturasi adalah suhu, keadaan ph, dan garam logam berat. Lemak
merupakan tri griseral dehida yang tidak larut dalan air maupun Ha2Co3
tetapi lemak larut dalam alkohol , eter dan clhoroform.
5.2. Saran
Proses Praktikum Biokimia Dasar ini kurang
maksimal,agar praktikum berjalan baik, peraktikan harus melakukan praktikum
secara teliti dan sesuai metode agar mendapatkan data yang akurat dan benar
sesuai prosedur kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Afnanto.2003.Pengawasan
Mutu Bahan Atau Produk Pangan.Uberty,Jogjakarta
Anna Poedjiaddi, 1994. Dasar-dasar
Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta
Apriyanto, A. 1998. Analisa Pangan. Bogor PAU Pangan dan Gizi. IPB
Bintang. M, 2010. Biokimia Ternak
Penelitian. Erlangga, Jakarta
Djojo, Sumarto. 2008. Biokimia. Erlangga : Jakarta.
Fessenden,.J dan JS. Fessenden.1982.Kimia Organik jilid 2 Terjemahan.
Erlangga,Jakarta
Fessenden.
1986. Kimia Organik, Gelora Aksara Pertama, Erlangga : Jakarta.
Fessenden ,
Ralp. J .1999. Kimia Organik . Erlangga. Jakarta
Hart.
J. David, 1982. Kimia organik, Erlangga : Jakarta.
Hart, L., E. Craine., dan Harold. 2003.
Kimia Organik. Jakarta, Erlangga
Hawab, H. M, 2003. Pengantar Biokimia. Erlangga, Jakarta
Lehninger.
L. Alberth. 1982. Dasar-dasar Biokimia, Erlangga : Jakarta.
Martoharsono, S. dan Mulyono. 1976.
Petunjuk Praktikum Biokimia. Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Martoharsono.
Soeharsono, 2006. Biokimia, Gadjah Mada University Press.
Bulak Sumur, Yogjakarta
Pond, W. G., D. C. Chruch dan K. R. Pond.
1995. Basic Animal and Feeding
Fourth Edition. John Wiley and son’s, USA.
Robinson,T.1995.Kandungan Organik Tumbuhan
Tinggi.Penerbit ITB, Bandung
Sastrohamidjojo.2005.Kimia Organik Stereokimia,karbohidrat,
lemak, dan
protein.Gadjah Mada
University Press,Jogjakarta
Sudarmadji, S. Haryono., dan B. Suhardi. 2003. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Liberty,
Yogyakarta
Sumardjo.2006.Kimia
Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran.ESG,Jakarta
Underwood, D.1999.
Analisa Kuantitatif Kimia. Erlangga. Jakarta
Winarno.F.G.1988.Kimia Pangan dan
Gizi.Gramedia,Jakarta
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat-alat
Analisa Kuantitatif
|
No
|
Nama
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1
|
Buret
|
![]() |
yang digunakn untuk menitrasi
|
|
2
|
Erlenmeyer
|
![]() |
erlenmeyer digunakan untuk mencampur larutan
|
|
3
|
Statif
|
![]() |
Untuk
menempatkan buret
|
|
4
|
labu ukur 100 ml
|
![]() |
Untuk mecampur
larutan
![]() |
|
5
|
Labu ukur 250 ml
|
![]() |
Untuk mencampur
larutan
|
|
6
|
Pipet volume
|
![]() |
Untuk mengambil
larutan sesuai volume yang di butuhkan
|
|
7
|
Pipet tetes
|
![]() |
Untuk mengambil
larutan atau indikator
|
|
8
|
Lampu spirtus
|
![]() |
Untuk memanaskan larutan |
|
9
|
Gelas ukur
|
![]() ![]() |
Digunakan
sebagai wadah sampel
|
|
10
|
Tabung reaksi
|
|
Tempat pereaksi
|
|
11
|
Rak tabung
|
![]() ![]() |
Tempat
meletakkan tabung reaksi
|
|
12
|
Penjepit
|
|
Untuk menjepit
tabung saat dipanaskan
|
Lampiran 2. Perhitungan analisa Kuantitatif
·
Perhitungan
Normalitas NaOH =
N1 .V1 = N2 .V2
0,1 . 9,9 =
N2 . 10
0,99
= N2 .10
N2 =

= 0,099 N
·
Perhitungan
Kadar Asam Cuka
Lampiran 3. Fotocopy Laporan Sementara
Praktikum Analisa Kuantitatif
Lampiran 4. Menjawab Pertanyaan Karbohidrat
Uji fehling
1.
Mengapa
ada dua karbohiddrat yang gagal terhadap uji fehling?
Karena sukrosa dan
kanji bukan merupakan monosakarida . pada praktikum fehling digunakan untuk
menguji monosakarida
2.
Apakah
madu menghasilkan uji fehling yang positif?
Ya, karena warna yang ditimbulkan dari madu adalah
merah bata.
3.
Tuliskan
nama struktur karbohidrat yang menyebabkan uji ini positif?
O
║
CHO H-C-Na
|
|
H-C-OH OH-C-H
| |
OH-C-H + Cu 2+ +
NaOH + H2O → OH-C-H + Cu2O+
H+
|
↑ |
H-C-OH H-C-OH
| |
`
H-C-OH H-C-OH
| |
CH2O CH2OH
(Glukosa)
4. Apakah sirup yang anda uji positif terhadap fehling?
Ya, karena terbentuk endapan merah bata.
1.
Uji benedict
1.
Tuliskan reaksi untuk pengujian larutan
,altosa dan laktosa
Maltose
= maltosa + benedict kemudian dipanaskan menghasilkan endapan merah bata.
Laktosa = Laktosa + benedict kemudian dipanaskan
menghasilkan endapan merah bata.
2.
Apakah
penyusun benedict?
Cu2+
dan H2O
3.
Kesimpulan
apa yang anda ambil dari percobaan diatas?
Larutan
benedict mengandung unsur Cu (tembaga) hal ini dapat diidentifikasi dengan
adanya endapan warna merah bata pada larutan yang diujikan. Endapan akan
terbentuk apabila kedua senyawa yang direaksikan memiliki keterkaitan antar
molekul lewat gugus fungsionalnya.
4.
Apa
yang terjadi baik glukosa yang banyak dan sedikit pereaksi dipanaskan?
Terbentuk endapan merah pekat dan
pembentukan endapan berlangsung cepat.
2.
Uji asam pikrat
1. Tuliskan reaksi untuk masing-masing pengujian diatas!
CHO
COOH
|
|
H-C-OH
H-C-OH
|
|
OH-C-H
+
→
OH-C-H +
|
↑
|
H-C-OH
H-C-OH
|
|
H-C-OH
H-C-OH
|
|
CH2O
CH2OH
(Glukosa) (Asam pikrat)
(Asam Glukorat) (Asam Pikronat)
2.
Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil
dari percobaan ini?
Sampel karbohidrat bila diberi asam pikrat
dan sodium karbonat akan berwarna merah atau reaksi positif.
![]() |
Lampiran 5. Fotocopy
Laporan Sementara Praktikum Karbohidrat
Lampiran 6. Jawaban
Pertanyaan Protein
Pertanyaan uji biuret
1. Tuliskan struktur kimia yang memberi hasil terhadap uji Biuret ?
Pertanyaan Preparasi dengan Larutan Garam Logam
Berat
1. Bersifat sebagai apakah protein dan logam-logam berat dalam reaksi ini ?
Jawab: Sebagai pereaksi.
2. Apakah warna masing-masing endapan yang terbentuk, dan tulis
masing-masing reaksi ?
Jawab: Larutan putih telur + FeCl3 terbentuk endapan berwarna orange
Larutan putih telur +
CuSO4 terbentuk
endapan berwarna biru
Larutan putih telur +
HgCl2 terbentuk
endapan berwarna kuning
Larutan putih telur
+ PbCOOH terbentuk endapan berwarna putih
Larutan protein susu +
FeCl3 terbentuk
endapan putih kekuningan
Larutan protein susu +
CuSO4 terbentuk
endapan putih kebiruan
Larutan protein susu +
HgCl2 terbentuk
endapan berwarna putih
Larutan protein susu +
PbCOOH terbentuk endapan putih
3. Sebutkan garam-garam logam berat lain yang saudara ketahui ?
Jawab : HgBr2, HgI2,
HgF2, PbBr2, PbF2, PbCI2, PbI2.
Lampiran 7. Fotocopy
Laporan Sementara Praktikum Protein
Lampiran 8. Jawaban Pertanyaan Lemak
Sifat Fisik, Kekentalan, dan Bau
a) Senyawa manakah yang merupakan steroid
murni ?
kolesterol
b) Senyawa manakah yang mempunyai bau
paling enak ?
minyak
kelapa
Lampiran 9. Fotocopy
Laporan Sementara Praktikum Lemak




















backgrounnya terlalu feminim buat cowok...
BalasHapusmembantu nih jar buat postest bsk..
BalasHapushhaha
laporan ku sayang
BalasHapussemoga bermanfaat.
semoga bermanfaat untuk adik-adik kita nanti.,,,
BalasHapusACC ACC.,,HEHE
hahahahahaha :D
BalasHapusmakalah oh makalah
saran: sebaiknya warna background diganti dengan yang menarik
Waah blognya bagus.Bisa buat belajar.
BalasHapusakan bermanfaat untuk kedepannya,, laporan tersebut akan banyak dibutuhkan
BalasHapusjadi teringat . . .
BalasHapusmencari asdos untuk ACC..
GOOD JOB
bikin pusiinngggggg....!!!
BalasHapusalhamdulillah ya acc :)
BalasHapushhhahahahahaha, mksih brow buat kritik dan saranya,,,, bisa buat adek" kita ntar, bisa juga buat nyontek postes hahahahahahahahahaha
BalasHapusberguna untuk angkatan yang akan datang :D
BalasHapuscocokk bgt nii jarr buatt adee"kelass yg lain ,,
BalasHapustp musingin ikhh :D
kakak, yang baik < adek tingkat tahun depan tinggal contonii.
BalasHapus